Buku Pembelajaran An-Nashr

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Alhamdulillah,...

Cara mudah memahami Al-Qur'an

Al-Qur’an telah ditetapkan sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW, maka wajib bagi umat Islam memberikan perhatian yang lebih khusus, terutama mengkaji kemu’jizatannya dari berbagai sisi serta memahami kandungan isinya

METODE MEMAHAMI AL-QUR’AN UNTUK ORANG NON-ARAB

Islam diturunkan oleh Allah SWT ke muka bumi melalui risalah Muhammad SAW dengan kelengkapan values (nilai-nilai) universal yang terangkum dalam Al-Quran al Karim.

Apresiasi Mendiknas

Alhamdulillah, apresiasi yang tinggi datang dari Mendiknas Prof. DR. HM. Nuh terhadap Metode An Nashr.

Lembaga Pesantren dan Pendidikan An-Nashr

Untuk lebih memaksimalkan anak-anak dalam mempelajari Metode An-Nashr, Alhamdulillah sekarang sudah terbentuk

Sabtu, 27 September 2014

PENGERTIAN TERJEMAH

Terjemah secara bahasa artinya : الْبَÙŠَانُ Ùˆَالإِضَاح (menjelaskan dan menerangkan), sedang menurut istilah adalah : اُØ®ْرَىالتَّعبِÙŠْرُ عَÙ†ِ الْÙƒَلاَÙ…ِ بِÙ„ُغَاتٍ : (pengungkapan suatu pembicaraan dengan bahasa lain).  Maka yang dimaksud dengan menerjemah Al-Qur’an adalah  :  التَّعْبِÙŠْرُ عَÙ†ْ Ù…َعْÙ†َÙ‰ الْÙ‚ُرْآنِ بِÙ„ُغَØ©ٍ اُØ®ْرَÙ‰ (pengungkapan makna Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa lain).
Terjemahan itu ada dua macam :
1.      Terjemah Harfiyyah
Penerjemaan dengan memperhatikan kata yang terdapat di Al-Qur’an, lalu kata tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia persis sebagaimana arti yang dikandung kata tersebut. 
2.      Terjemah Tafsiriyyah / Maknawiyah
Penerjemah memperhatikan redaksi kata atau kalimat dalam al-Qur’an yang hendak diterjemahkan, memahami makna yang terkandung dalam kata atau kalimat tersebut, kemudian  mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia sesuai makna yang dikehendaki, sekalipun kadang berbeda dengan arti kata tersebut.
Contoh :
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ø®ُذُوا Ø­ِذْرَÙƒُÙ…ْ
Terjemah harfiyah : Wahai orang-orang yang beriman ambillah kewaspadaan kalian.
Terjemah Maknawiyah : Wahai orang-orang yang beriman bersiap siagalah kalian (Q.S 4 ; 71).
Ø¥ِذَا ÙˆَÙ‚َعَتِ الْÙˆَاقِعَØ©ُ
Terjemah harfiyahnya : Apabila terjadi yang terjadi.
Terjemah Maknawiyahnya: Apabila terjadi hari kiamat. (Q.S 56 ;1 )

Dalam menerjemahkanAl-Qur’an, tidak semua kata atau ayat bisa diterjemahkan secara harfiyyah,  mengingat setiap bahasa mempunyaiuslub (gaya bahasa) yang berbeda-beda. Selain itu dalam Al Qur’an adan kata yang di-qashr (diringkas) atau di hadf (dihilangkan) sehingga sekalipun kata tersebut tidak tertulis dalam kalimat, namun harus disebutkan dalam terjemahan utuk meghindari salah pegertian.[]

Kemampuan Terjemah Dengan Metode An Nashr

Dengan belajar terjemah Al Qur’an metode An Nashr, peserta dapat menerjemah meskibelum menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab seperti ilmu nahwu, shorof, balaghoh atau ma’ani.
Dengan belajar terjemah Al Qur’an menggunakan metode An Nashr Insya Allah peserta akan memiliki kemampuan antara lain :
-       Mampu menerjemah dengan terjemah per-kata
-       Mampu menerjemah dengan terjemah per-ayat.
-       Mampumenerjemah dengan kecepatan yang sama dengan kemampuan membaca Al Qur’an.
-     Mampu membedakan arti untuk kata yang sama namun digunakan pada konteks yang berbeda.
-       Mampu menerjemahkan bacaan orang atau bacaan murottal para qori dari VCD/MP3.
Setelah mampu menerjemahkan, proses selanjutnya adalah memahami. Dalam memahami maksud suatu ayat bisa ditempuh beberapa cara antara lain : meminta penjelasan dari guru yang memahami maksud ayat tersebut, belajar dari kitab tafsir atau dengan mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab dan tafsir.

Demikian penjelasan secara singkat tentang metode An Nashr, semoga metode An Nashr dapat bermanfaat bagi umat Islam, yang ingin lebih mengenal kitab sucinya.[]

Semakin Lama Semakin Mudah

Dengan metode An Nashr, belajar terjemah semakin lama menjadi semakin mudah, karena kata yang ada di Al Qur’an banyak terjadi pengulangan, sehingga apabila peserta sudah menghafal arti satu mufrodat disatuayat, ketika mufrodat yang samaditemukan pada ayat  yang lain, maka tidak perlu lagi menghafalkan arti dari kata tersebut, kecuali kata yang sama itu memiliki arti yang berbeda.

Berikut ini mufrodat surat Al-Fatihah berikut pengulangannya dalam Al Qur’an, dari lafadz yang sama maupun dari akar kata yang sama.


Dalam surat Al fatihah ada 26 mufrodat. Hampir semua mufrodat disebutkan secara berulang-ulang.  Jumlah total pengulangan dari lafadz yang sama adalah 4.418. sedang jumlah dari lafadz yang memiliki akar sama adalah 7.571.  Kata yang lafadznya sama, kebanyakan  memiliki makna yang sama walaupun terletak di ayat yang berbeda.  Sedangkan bila berasal dari akar yang sama, perbedaannya bukan pada makna dasar, melainkan dari segi waktu apabila itu adalah fi’il (kata kerja) dan dari segi jumlah dan jenisnya apabila kata tersebut merupakan isim.
Maka, bila seseorang tahuarti tiap mufrodatdari surat Al Fatihah, maka sesungguhnya dia sudah mengetahui arti dari 4.418 mufrodatdi Al Qur’an, atau sekitar 5,7 persen dari 77.439 mufrodat. Sedangkan bila dia memahamipola perubahan kata,dia mengetahui arti9,7 persen dari keseluruhan mufrodat di Al Qur’an.

Tahapan Pelajaran Metode An Nashr

Pelajaran pertama dalam metode An Nashr adalah  menghafalkan arti dari mufrodat (mufrodat) yang ada di surat-surat pendek juz 30 dan 29.  Pola dan cara menghafal tidak sama,  tergantung usia dan kemampuan peserta metode. Penulis sengaja memilih surat-surat pendek juz 30 dan 29 sebagai materi pertama dengan tujuan :
Pertama : Hampir semua surat di kedua juz tersebut adalah Makkiyyah, yakni surat yang diturunkan pada periode Mekkah sebelum Nabi Muhammad SAW, hijrah ke Madinah. Kebanyakan surat yang turun di Mekkah berbicara tentang pokok-pokok Keimanan seperti, Ke-Esaan Allah, adaya para malaikat, diutusnya para rosul, kepastian akan terjadinya hari akhirat, berikut peristiwa yang mengiringinya. Dengan mendahulukanbelajar juz 30 dan 29, diharapkan terjadi tumbuhnya keimanan sebelum mereka mempelajari surat-surat lainnya yang sudah melai membahas tentang hukum.
Kedua : Menumbuhkan semangat karena hanya dalam beberapa kali pertemuan saja, mereka sudah bisa mengartikan beberapa surat.  Berbeda dengan apabila pembelajaran dimulai dari surat Al Baqarah misalnya, maka dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar menghafal arti yang ada pada surat tersebut. Karena itulah pembelajaran dalam metode An Nashr, untuk juz 30, dimulai dari surat-surat yang ada di bagian paling akhir. Disamping surat-surat pendek itu yang paling banyak dibaca pada waktu sholat, sehingga sangat membantu menambah kekhusyukan sholat.

Ketiga : Ayat-ayat yang ada di juz 30 pendek-pendek, jadi sangat cocok untuk pengulangan dengan pola-pola metode An Nashr. Yaitu pola 4 -3 – 2 – 1.

Allah Akan MemberiKemudahan

Kita meyakini, bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Segala sesuatu berada dalam genggaman kekuasaan dan kehendak-Nya.  Suatu urusan yang sulit akan menjadi  mudah bila Dia menghendaki urusan itu mudah dan sebaliknya suatu urusan yang kelihatan mudah bisa menjadi sulit bila Dia tidak menghendakinya.
            Dalam hal Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Al Qur’an telah Dia jadikan mudah untuk dipelajari :
Artinya : Dan Sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? ( Q.S. Al Qomar 17 ).
Maka ketika kita belajar Al Qur’an, yang pertama harus kita yakiniadalah Dia telah menjadikan kitab-Nya mudah dipelajari. Dengan demikian akan membuat kita semakin bersemangat dalam belajar.
Hasan Basri, Abu ’aliyah, Nasyir bin Asim, Asim al jahdari dan Malik bin Dinar, pernah menghitung jumlah kosa katadalam Al-Qur’an, yang dalam istilah bahasa Arab disebut mufrodat, mereka menyatakan bahwa jumlah kosa kata dalam al Qur’an berjumlah 77.439.  Dari semua mufrodat sebagian besar adalah pengulangan-pengulangan.
Kata-kata yang digunakan berulang kali itu umumnya memiliki arti sama, hanya sebagian saja yang artinya berbeda, perbedaan arti terjadi karena perbedaan konteks kalimat.
Penyebutan mufrodat secara berulang-ulang tersebut tentu membuat belajar  menerjemah Al Qur’an tidak sulit, terutama bila orang telah mengetahui arti satu atau dua juz Al Qur’an.

Metode An Nashr, adalah suatu metode menghafal terjemah dari suatu mufrodat dengan cara yang sederhana.

Proses Penyusunan Metode

Sebagai sebuah metode terjemah Al Qur’an, metode An Nashr sudah mulai disusun sejak pertengan tahun 1999.  Namun penerapan metode tersebut baru diujicobakan pada awal tahun 2005, uji coba dilakukan kepada tujuh anak yang umurnya berbeda-beda, yang paling kecil berusia lima tahun dan yang terbesar berusia enam belas tahun. Waktu belajar antara tigapuluh sampai empatpuluh lima menit tiap pertemuan. Dalam satu hari dilakukan dua kali yaitu pagi dan sore.
Dalam waktu lima tahun  anak-anak mampu menerjemahkan al Qur’an dengan menyebut arti perkata, menyusun terjemah per-ayat dan mampu menerjemah dengan mendengarkan bacaan dari kaset atau CD.
Nama An Nashr
            Nama An Nashr sengaja dipilih sebagai sebutan bagi metode terjemah Al Qur’an ini adalah karena beberapa alasan:
Pertama : Harapan agar senantiasa menadapatkan bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT dalam semua usaha untuk memahami kitab-Nya. Karena mustahil kita dapat memahami Kalam-Nya tanpa ridho-Nya. Mengingat An Nashr artinya pertolongan.
Kedua : Nama An Nashr adalah sebagai bentuk harapan akan datangnya kejayaan dan kemenangan umat Islam. Disegala bidang kehidupan.
Karena An Nashr adalah merupakan nama bagi surat ke 110 dari Al Qur’an, yang menceritakan akan kejayaan umat Islam :   
Artinya : 1.)  Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2.)  Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3.)  Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.

Nama An Nashr merupakan harapan akan datangnya pertolongan dari Allah dan kemenangan bagi umat Islam atas para musuhnya. Berbondong-bondongnya umat manusia untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah, diampuninya dosa dan kesalahan. Sebagaimana tersebut dalam surat An Nashr tersebut di atas.

Mengapa Perlu Belajar Menerjemah Al Qur’an


        Sebagai sebuah kitab yang merupakan wahyu dan bimbingan bagi umat manusia, tentunya memahami Al Qur’an adalah merupakan keniscayaan, karena dengan memahaminya, kita dapat menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.  Dan salah satu  pintu bagi pemahaman Al Qur’an adalah kemampuan menerjemahkannya ke bahasa yang difahami. Bagi orang yang pandai berbahasa Arab, untuk memahami tidak perlu menerjemahkan kedalam bahasa lain, cukup baginya mengerti maksud kata-kata tertentu dalam Al Qur’an yang dirasa sulit. Sedang untuk mereka yang tidak menguasai bahasa Arab, menerjemahkan adalah pintu masuk bagi pemahaman.
Buku yang sedang ada di tangan anda ini adalah metode menerjemahkan Al Qur’an. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menerjemah artinya menyalin atau memindahkan suatu bahasa ke bahasa lain. Jadi yang dimaksud menerjemahkan Al Qur’an adalah memindahkan bahasa Al Qur’an (Arab) kedalam bahasa lain (Indonesia).
Dengan metode An Nashr, Insya Allah anda akan mendapati bahwa ternyata tidak sulit untuk menerjemah dan memahami bahasa Al Qur’an. Dengan cara yang sederhana, anda bisa hafal arti kalimat di Al Qur’an dengan mudah, mampu menyusunnya menjadi terjemahan langsung satu ayat, dan bisa memahami ketika mendengar ayat al Qur’an dibaca orang.

Pada saat itulah maka anda akan merasakan lezatnya membaca maupun mendengarkan lantunan ayat-ayat Al Qur’an dengan lebih lengkap. Karena yang anda rasakan bukan hanya indahnya bacaan atau suara qori’nya, tapi fikiran dan hati anda akan larut dalam penghayatan dan perenungan akan kedalaman makna yang terkandung dalam sebuah ayat.